Tampilkan postingan dengan label AkuInginHamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AkuInginHamil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Positif Hamil (Super Late Post)

Alhamdulillah..alhamdulillah..alhamdulillah
Udah speechless gatau mau  ngomong apa.. Alhamdulillah promil saya dan suami akhirnya membawa kabar baik. Kehamilan yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga, terima kasih ya Allah  :)

Ceritanya bulan September lalu, kebetulan usia saya genap 27 tahun. Terus suami nanya, pengen kado apa. Terus saya cuma bilang, “saya ingin hamil dan punya anak, hehe” suami saya cuma meng-AMIN-kan saja. Gamau saya makin terpuruk sama kehamilan yang tak kunjung datang, suami pun langsung mengalihkan pembicaraan yang lain. Hari ulang tahun saya pun tiba, Alhamdulillah masih dkasi umur, dan masih  banyak yang member kejutan termasuk dari mertua dan adik-adik ipar. Terima kasih ya Allah :)

Setelah hari ulang tahun, saya mulai merasa ada yang berbeda dengan fisik saya. Seperti mudah lelah dan hampir tiap malam saya terbangun hanya untuk buang air kecil saja. Saya pikir, ah mungkin cuaca yang bikin saya terbangun malem hari untuk buang air kecil. Beberapa hari kemudian, saya merasa penasaran. Tapi baru beberapa hari telatnya, mungkin lagi-lagi karena hormon. Ah tapi ga ada salahnya test pack, toh harga test pack juga murah, pikir saya. Saya sempet ngobrol sama suami, seperti biasa suami Cuma bisa memberi dukungan “ya udah coba aja”. Malem  itu saya berniat, kalau nanti sebelum subuh saya terbangun, saya ingin test. Maklum persediaan test pack saya masih lebih dari cukup.

Ternyata benar saja, dini hari itu saya terbangun untuk buang air kecil. Saya sempatkan ambill test pack dulu sebelum ke kamar mandi. Sambil masih mengantuk, saya menunggu hasilnya. Kaget dan sungguh masih belum percaya melihat hasilnya. Sebelum melihat hasilnya, saya sempat nyeletuk dalam hati “ah palingan cuma satu strip lagi, seperti biasa. tapi mudah2an dua deh” ga tau nya hasilnya ada DUA STRIP!! DUA STRIP saudara-saudara :')
 
Masih dalam keadaan belum percaya, saya langsung teriak “HAH?!” terus suami yang masih terlelap tidur pun tiba-tiba terbangun mendengar teriakan saya dari kamar mandi. “kamu kenapa sayang?” terus saya menunjukan hasil test pack, dia malah bilang “duh kamu bikin kaget aja, kirain aku kamu jatuh di kamar mandi. Emang hasil test pack nya apa?” awalnya dia tidak begitu tertarik, ya mungkin dia pun sudah terbiasa dengan hasil yang kurang membahagiakan. Tapi kali ini hasilnya beda, kali ini hasilnya dua strip! Begitu saya kasih tau hasilnya, suami pun langsung memeluk saya sambil berucap “alhamdulillah” terus senyum-senyum. Akhirnya saya dan suami pun melanjutkan tidur, lumayan lah masih ada jatah satu jam untuk melanjutkan tidur sebelum memulai rutinitas.

Sungguh saya dan suami masih belum percaya, tapi kami tetep melanjutkan tidur.. hehe Setelah sampai di kantor, saya sms suami untuk minta dibeliin test pack yang agak bagusan, test pack yang compact untuk meyakinkan saja. Soalnya di rumah masih ada juga stock test pack sensitif. Rencananya yang sensitive mau dipake besok pagi, dan kalau compact esokan hari nya lagi.

Sebelum GoJek didemo di wilayah kantor saya, saya masih setia menjadi pelanggan setia. Sore itu sepulang dari kantor dengan menggunakan GoJek, saya buru-buru ke kamar mandi dengan membawa test pack. Test pack yang saya gunakan merk nya masih sama dengan yang tadi pagi saya gunakan. Setelah saya tunggu hasilnya, hasilnya sama persis sama yang tadi pagi. Hasil yang pertama dan kedua, saya simpan untuk diliatin ke suami.

Akhirnya suami pulang, dengan membawa test pack jenis compact. Ah sudah cukup test untuk hari ini, saya akan coba lagi besok pikir saya. Keesokan harinya, lagi-lagi saya terbangun sebelum subuh untuk buang air kecil, kali ini saya membawa test pack merk sensitif. Setelah menunggu hasilnya, hasilnya pun sama dengan hasil yang kemarin. Tapi masih agak samar. Begitu juga keesokan harinya, saya mencoba menggunakan test pack jenis compact, dan hasilnya pun +. Aaah daripada penasaran, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakan ke dokter (to be continue...)

Pemeriksaan HSG (Super Late Post)



Kali ini mau membahas perkembangan program hamil bulan demi bulan. Kebetulan bulan September bulan saya bertambah usia, sempet berkeinginan “semoga bisa dapet kado terindah tahun ini”, yah namanya saja keinginan bisa terkabul ataupun tidak. Beberapa hari sebelum ulang tahun, saya dan suami berbincang-bincang. Yah ngobrol biasalah, santai sambil nonton tv. Tiba-tiba suami cerita, kalau salah satu sahabat dekatnya nanya2 tentang program hamil yang sedang kita jalankan, apakah sudah berhasil  atau belum. Kebetulan suami dan sahabatnya ini dekat sekali sampai sudah dianggap keluarga sendiri. Sampai-sampai hari pernikahan kami pun diadakan di tanggal yang sama tapi beda tempat.

Suami dan sahabatnya saling bertukar cerita tentang program hamil yang sedang dijalankan. Sang sahabat bercerita tentang pengalamannya test sperma, dan sang istrinya test kesehatan sel telur HSG. Selain bercerita tentang pengalamannya, dia juga bertanya tentang test yang sudah dijalankan oleh suami dan saya. Suami tidak bercerita banyak, masalahnya kami memang memutuskan belum mau memulai test ini itu. Nanti sajalah kalau sudah setahun pikir kami.

Entah kenapa, setelah suami cerita tentang pengalaman sahabatnya, saya mencari tau apa itu Test HSG dan lain sebagainya. Ini sedikit informasi yang saya dapat dari artikel sebelah.

Apa itu histerosalpingografi? Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG), dikenal juga dengan pemeriksaan uterosalpingografi, adalah pemeriksaan sinar X dengan memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopi)

Apa tujuannya? Untuk mengetahui kondisi saluran telur sekaligus apakah ada sumbatan dan letaknya pada saluran telur yang bisa menyebabkan infertilitas. Pemeriksaan HSG juga bisa mengevaluasi bentuk, ukuran dan struktur rongga rahim sehingga bisa mendeteksi beberapa kelainan seperti tumor jinak di rahim yang tumbuh ke arah rongga rahim (mioma uteri jenis submukosum), polip rahim, perlengketan (adesi) dinding rahim, atau kelainan bawaan rongga rahim seperti adanya sekat pada rahim (septum). Pemeriksaan ini juga bisa mengetahui penyebab keguguran berulang.

Setelah membaca informasi tersebut, saya mendadak galau, mendadak memikirkan kenapa juga ya ga test ini itu, namanya juga usaha. Trus tiba-tiba pengen liat video perkembangan janin di Youtube channel. Dan video itu berhasil membuat saya menangis sejadi-jadinya, teharu atas kebesaran Allah SWT yang menciptakan manusia, terharu juga melihat pengorbanan seorang ibu saat melahirkan. Sambil masih menangis sejadi-jadinya, suami dengan sigapnya langsung memeluk dan menenangkan, kalau semuanya akan baik-baik saja. Kita jalani bersama, harus semangat ujarnya. Setelah saya puas menangis, dan mulai tenang, suami pun mengajak saya masuk kamar untuk beristirahat.

Keesokan harinya, saat suami mengantar saya berangkat kerja, saya meminta maaf karena kejadian semalam yang mendadak galau membuat dan suami saya khawatir. Suami saya hanya tersenyum, dia bilang “gpp yang penting kamu sekarang udah tenang, jangan nangis lagi ya. Semangat ya, yang penting kita sudah usaha, sisanya serahkan saja sama Allah”

Saya bersyukur mempunyai suami seperti dia, selalu tau celah dimana harus mengambl sikap untuk menghadapi tingkah laku saya. Saya menangis karena jujur, saya memang sudah pengen banget memiliki momongan. Tapi kalau saya pikir lagi, sebenarnya bukan saya saja yang sudah ingin memiliki momongan. Tapi suami pun sudah pengen cepet-cepet. Tapi suami tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di depan saya. Mungkin kalau dia sedih, saya bakal teramat sedih. Jadi dia selalu berusaha menyemangati saya dan mungkin dirinya sendiri. 

Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan pendamping hidup yang selalu sabar dan selalu menyemangati hamba dalam keadaan apapun.

Kunjungan Dr.SpOg Kedua (Super Late Post)



Dengan berbekal pengalaman buruk pada saat konsultasi dengan dokter kandungan sebelumnya, maka kali saya mencari tau dokter kandungan yang rekomen. Pada saat curhat sama seorang sahabat yang kebetulan bekerja di sebuah rumah sakit, tentang pengalaman buruk kemarin, maka sang sahabat pun merekomendasikan sebuah klinik dan seorang dokter. Kebetulan lokasi klinik tidak begitu jauh dari tempat tinggal orang tua saya. Sahabat lain yang kebetulan kerja di lab pun tidak menyarankan untuk test hormon terlebih dahulu, karena konon biayanya lumayan menguras tabungan. Kalau tidak salah, hampir 2 jt an. Alhasil, setelah dinasehati oleh kedua sahabat saya tersebut, akhirnya saya mencari second opinion ke klinik dan dokter yang dimaksud. 

Kebetulan sabtu itu, kami tidak ada jadwal kemana-mana, jadi kami berfikir untuk pergi ke klinik, sekalian jenguk orang tua saya. Sebelumya, saya udah nelepon ke klinik, katanya dokternya praktek jam 10. Berbekal informasi dari telepon tadi, saya dan suami dateng jam9, karena katanya harus daftar dulu. Begitu kami sampai di klinik, WOW ramee banget deh udah kaya pasar…! Mungkin memang kebetulan itu klinik khusus ibu dan anak, dan kami datang hari libur jadi yaa mungkin wajar sajalah kalau padat seperti itu. Begitu mau daftar, ternyata saya dapet no antrian ke 33. Ah kami fikir tidak akan lama, soalnya di dokter sebelumnya, satu pasien tidak sampai 10 menit. Ternyata sampe jam1, nomer antrian masih belasan. Akhirnya kami putuskan untuk pulang dulu krmh orang tua saya, sekalian solat dzuhur. Setelah solat dzuhur, kami istirahat sambil nunggu adzan ashar. Ah palingan habis ashar, pikir kami. Kami pun terlelap tidur sampai akhirnya adzan ashar. Setelah solat asar, kami nelepon kliniknya untuk bertanya sudah nomer berapa antriannya. Ternyata sudah 28, kami pun bergegas pergi lagi ke klinik.

Sesampainya di klinik, mendadak deg2an. Ah maklum lah masih trauma sama dokter kandungan sebelumnya. Akhirnya nomor kami pun dipanggil. Begitu masuk ruangan dokter, disambut super hangat sama sang dokter. Lalu ditanya-tanya seprti, “ada apa? Kapan terakhir mens? Sudah berapa lama menikah?” ga lama setelah tanya jawab, saya pun disuruh usg. Pada saat proses usg, dokternya bilang “wah ini ga nahan pipis ya?” OMG saya lupa untuk nahan pipis, alhasil dokter langsung menyarankan untuk transvaginal. Semacam dimasukin alat gitu ke dalam kemaluan. Kemudian hasilnya muncul di layar, “belum ada pembuahan sih, tapi di sini keliatan udah ada penebalan rahim, antara mau mens atau akan terjadi pembuahan” setelah beres transvaginal, kami pun berbincang-bincang di meja dokter. Lalu terjadilah percakapan :
Dokter (D) ; Saya (S)

D          : Untuk sekarang, ga saya kasih obat dulu ya. Takutnya bener terjadi pembuahan.
S          : Oh iya dok
D          : Berat badannya naik ya setelah nikah?
S          : Iya dok
D          : Berapa kilo?
S          : 6 Kg
D          : Waduh baru 6 bulan sudah naik 6 kilo? Haha kalau bisa berat badannya turunin ya, soalnya nanti kalau hamil pasti berat badannya naik lagi
S          : Iya dok (dengan nada ragu)
D          : Analisa sementara, mungkin kenaikan berat badan yang drastis mempengaruhi hormon, jadi sekarang kamu mens nya telat
S          : Oh gitu ya dok, dok kalau mens nya ga teratur apa pertanda tidak subur?
D          : Oh engga, kesuburan tidak bisa dilihat dari jadwal mens. Selama kamu masih mens, berarti ya masih subur
S          : Oh iya iya
D          : Pola makan nya mulai sekarang diatur ya, makan tetep 3x sehari tapi kalau bisa disela-sela jadwal makan itu tidak boleh ngemil
S          : iya mudah-mudah bisa dok, makasih dok

Habis keluar dari ruangan dokter, kami merasa puas dengan hasil konsultasinya. Sangat jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Begitu harus bayar, subhanallah biaya nya juga jauh lebih murah. Saya hanya perlu membayar Rp 120.000,- untuk konsultasi dan USG. Bener kata orang, cari dokter kandungan tuh cocok-cocokan. Harus sabar dan pantang menyerah untuk cari-cari sampai nemu yang sreg.

Vonis Mium/Kista (Super Late Post)

Ga kerasa udah 8 bulan saya resmi menjadi seorang istri. Sudah mulai banyak yang nanya “udah isi belum?” Setiap ada acara kumpul keluarga pasti ada saja yang menanyakan hal tersebut. Yah namanya juga kehidupan sosial, saya hanya bisa tersenyum seraya menjawab “belum, doain aja yang terbaik”

Awal-awal masih bisa dibawa santai, tapi entah kenapa akhir-akhir ini agak sensitive dan agak kepikiran kalau ada yang nanya seperti itu. Maklum saya dan suami juga pengen cepet-cepet punya anak, supaya rumah kami tidak sepi karena kami juga tidak pernah  menunda untuk punya momongan. Usaha dan doa tidak ada henti-hentinya demi mendapatkan momongan. Mulai dari minum susu persiapan kehamilan dengan berbagai merk, minum sari kurma, minum asam folat dan vitamin e.  Sampai-sampai  tidak pernah kehabisan stock susu & obat.

Berhubung haid saya tidak teratur semenjak persiapan pernikahan sampai sekarang, setelah menikah saya menggunakan aplikasi My Calendar di smartphone untuk memudahkan mengingat tanggal haid, masa subur dsb. Pagi itu, saya lihat aplikasi tersebut. Di sana dikatakan bahwa saya telah telat haid 3 hari dari jadwal yang seharusnya. Memang sih jadwal haid saya memang tidak teratur, ah tapi tidak ada salahnya coba testpack pikir saya. Setelah di testpack, ternyata hasilnya negative. Sedih sih tapi sudahlah, saat ini saya memang sudah mulai bersahabat dengan hasil testpack seperti itu. Awalnya memang sedih, bahkan pernah suatu ketika saya telat haid dan pas testpack hasilnya negative, entah kenapa saat itu terlalu terbawa perasaan sehinnga saya sangat sensitive dan tidak bisa menahan rasa sedih, ujung-ujungnya cuma bisa nangis. Di situ suami saya berusaha menenangkan, memberikan dukungan, “Ga usah dipikirin, mungkin belum  rejekinya. Sabar aja ya, lagian kan kita baru beberapa bulan nikah. Tenang, ga usah dipikirin, udah ya jangan nangis.” Denger suami ngomong gitu, bukannya berhenti nangis, saya malah tambah sedih, ngerasa belum bisa kasih kebahagiaan. Emang agak lebay sih tapi memang kadang saya merasa seperti itu Ditambah lagi saya memang tipe orang yang kalau lagi sedih, lebih baik dibiarkan menagis supaya tenang dibandingkan dihibur ini itu. Setelah puas nangis, rasanya lega. Akhinya setelah diajak ngobrol serius, kami memutuskan untuk lebih tenang menyikapi ini semua. Ga usah terlalu dengerin apa kata orang. Jalanin aja lebih santai. 

Beberapa bulan lalu, lagi lagi hasil testpack negative, memang sih sudah mulai terbiasa tapi jauh di lubuk hati yang terdalam ada rasa kecewa dan sedih. Tapi kali ini saya dan suami memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter, mumpung libur juga. Alhasil, saya diantar suami pergi ke klinik dekat rumah yang kebetulan ada dokter kandungan. Setelah daftar, saya tinggal menunggu dipanggil. Kebetulan saya dapet nomor antrian 1 jadi kami pikir tidak akan lama. Ga lama kemudian, nama saya dipanggil perawat, saya langsung ditensi dan ditimbang berat badan serta perawat tersebut pun bertanya tentang keluhan-keluhan yang dialami, setelah menulis keluhan, perawat tersebut menyuruh saya untuk banyak minum serta menahan pipis karena akan di USG. Setelah itu, saya disuruh menunggu lagi, karena dokternya belum dateng. Kurang lebih setengah jam, dokternya baru dateng. Begitu masuk ruangan, entah kenapa tiba-tiba degdegan, dokter langsung nanya, “disini ditulis konsultasi. Mau konsultasi apa?” (dengan nada yang sedikit tinggi). Entah kenapa saya kurang beitu suka dengan cara penyampaiannya. Setelah saya menceritakan keluhan saya, saya pun langsung disuruh usg. Begitu di USG, dokter menunjukkan hasilnya lewat monitor. Dokter bilang, kalau terlihat ada sel telur yang tidak pecah, entah lah dia bilang apa, yang saya ingat dia bilang “ini ada bentuk yang kecil kaya gini, masih belum pasti ini mium/kista” begitu denger dokter bilang gt, badan langsung lemeeees. Lalu setelah selesai USG, kembali ke meja dokter.

dr         : “selama ini haid nya teratur ga?”
Saya    : “engga dok (memang semenjak persiapan nikah sampai sekarang agak kurang teratur)”
dr         : “oh kalau haid nya ga teratur berarti ga subur. Saya saranin kamu test hormon aja. Mau gak?
  (dengan nada kembali tinggi)”
Saya    : “(dengan  pikiran yang masih campur aduk begitu dokter memvonis saya tidak subur) hah iya
  dok, baiknya gmn ya (berharap mendapat penjelasan lebih rinci)?
dr         : “Ya periksa aja hormonnya, ini saya kasih rujukan. Nanti kalau udah ada hasil, balik kesini lagi”
Saya    : “iya dok (dengan nada lemas dan langsung keluar)”

Setelah itu, giliran urusan administrasi. Bayar sekitar 250an lebih, WHAT?? Mahal banget dengan cara konsultasi seperti  itu? ga ada penjelasan apapun, ga sampe 10 menit kali! Saking kesalnya, saya dan suami memutuskan untuk tidak menebus obat. Sepanjang perjalanan pulang dari klinik sampai kerumah, saya ga mood untuk ngobrol apapun. Begitu sampai di rumah, diem sejenak. Masuk ke kamar, awalnya pengen kuat-kuatin, tapi entah kenapa terngiang-ngiang “mium, kista, tidak subur” ga lama kemudian, suami nanya ”kenapa?” Kesel sama penyampaian dokter, vonis mium, kista dan yang paling sakit hati adalah divonis tidak subur! Tanpa babibu lagi saya nangis sejadi-jadinya. Saking keselnya, saya bilang ke suami saya kalau saya tidak akan pernah mau balik lagi ke dokter itu! Bukan saya tidak mau menerima kenyataan, tapi cara penyampaian dokternya yang kurang saya suka. Dokter juga punya etika bukan? Untuk menyampaikan penyakit yang diderita pasiennya. Apakah harus dengan gamblangnya memvonis saya tidak subur pada kunjungan pertama dan di depan suami saya? Apalagi dia dokter senior, seharusnya lebih berpengalaman. Sedih, kesel semua campur jadi satu. Melihat istrinya nangis sejadi-jadinya sampai sesegukan. Suami saya dengan tenangnya memeluk saya, “udah ga usah dipikirin omongan dokter tadi, lupain aja. Kita periksa ke dokter yang lain aja. Udah ga usah dipikirin ya, ga usah takut, kan ada aku. Kita berdua sama-sama hadepin ya” sesekali saya pun melihat wajah suami saya, terlihat raut wajah sedih tapi tidak ingin ditunjukkan dan berusaha tetap tegar di depan istrinya. Setelah puas  nangis dan sedikit tenang, kami pun memutuskan untuk memeriksakan kembali ke dokter lain untuk second opinion.